
Polman Bandung Terima Kunjungan Zijin Mining Group Ltd, Bahas Peluang Kerja Sama Strategis
January 23, 2026Jakarta, 21 Januari 2026 – Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Swiss resmi meluncurkan Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II sebagai langkah strategis memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) sektor energi baru dan terbarukan guna mendukung transisi energi nasional dan target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Program RESD merupakan kemitraan bilateral antara Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dengan Pemerintah Indonesia yang dilaksanakan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM), melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Ketanagakerjaan.
Peluncuran RESD Fase II digelar di Ballroom Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Rabu (21/1), dan dihadiri oleh perwakilan kementerian/lembaga, industri, mitra internasional, asosiasi, serta perguruan tinggi vokasi. Direktur Politeknik Manufaktur (POLMAN) Bandung, Darma Firmansyah Undayat juga turut hadir sebagai bentuk dukungan institusi pendidikan vokasi terhadap penguatan SDM transisi energi.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menegaskan bahwa RESD merupakan model konkret pendidikan tinggi vokasi yang berdampak langsung pada kebutuhan industri.
“Program Renewable Energy Skills Development ini sangat strategis. Program ini tidak hanya mencakup pengembangan kurikulum, tetapi juga membangun sistem pendidikan vokasi energi terbarukan yang terhubung langsung dengan dunia usaha dan dunia industri, serta berorientasi pada keterserapan lulusan,” ujar Khairul.
Menurutnya, RESD memperkuat peran pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum dengan industri, sekaligus membangun ekosistem energi hijau secara nasional. Ia juga mengapresiasi peningkatan kapasitas dosen dan instruktur melalui dukungan universitas terapan di Swiss serta penyelenggaraan program Diploma 4 spesialisasi energi terbarukan di politeknik negeri.
Sementara itu, Kepala BPSDM ESDM, Prahoro Yulijanto Nurtjahyo, menekankan bahwa kesiapan SDM menjadi faktor kunci keberhasilan transisi energi. Ia menyampaikan bahwa RESD Fase II dibangun dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan industri.
“Melalui RESD Fase II, kita membangun ekosistem pengembangan SDM dan kolaborasi yang menyelaraskan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan talenta energi terbarukan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap memimpin perubahan,” ujar Prahoro.
Prahoro menjelaskan, RESD Fase I yang berlangsung sejak Desember 2020 hingga Juli 2025 telah menghasilkan capaian signifikan, antara lain mencetak 450 lulusan sarjana terapan teknik dengan spesialisasi energi terbarukan, melatih 386 teknisi PLTS dan PLTMH di sembilan provinsi, meningkatkan kapasitas 214 dosen dan instruktur, serta membangun lebih dari 100 kolaborasi strategis dengan industri. Tingkat serapan kerja lulusan politeknik bahkan mencapai 80 persen.
“Ke depan, melalui RESD Fase II, kami menargetkan lahir lebih dari 900 lulusan sarjana terapan yang siap mendukung percepatan transisi energi nasional,” katanya.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyatakan bahwa Program Renewable Energy Skills Development (RESD) merupakan bentuk investasi bersama antara Indonesia dan Swiss dalam pengembangan sumber daya manusia energi terbarukan. Dengan dukungan Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO), program tersebut tidak hanya mendorong transfer keahlian, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan, sehingga diharapkan dapat mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 secara inklusif.
Pada periode 2025–2028, RESD Fase II akan diperluas ke 19 politeknik dan lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian ESDM, Kemdiktisaintek, dan Kementerian Ketenagakerjaan yang tersebar di 15 provinsi. Fokus pengembangan mencakup perluasan teknologi, termasuk penyimpanan energi baterai, penguatan kurikulum berbasis industri, penyediaan fasilitas laboratorium berstandar industri, serta pengarusutamaan kesetaraan gender.
Menjawab rencana strategis tersebut, Direktur POLMAN menyampaikan bahwa melalui RESD Fase II, POLMAN telah resmi bergabung sebagai bagian dari ekosistem pengembangan SDM energi terbarukan. Ia menegaskan siap mendukung program pemerintah terkait pengembangan energi terbarukan, khususnya pada bidang solar, sistem hybrid, dan teknologi penyimpanan energi baterai, dengan fokus pada penyiapan SDM yang kompeten dan berdaya saing.
Sebagai bentuk kesiapan institusi, POLMAN saat ini telah menyiapkan program lanjutan alih jenjang pada Program Studi Teknik Rekayasa Otomasi dan Teknik Rekayasa Manufaktur. Program tersebut dirancang sebagai penguatan kurikulum berbasis industri yang berorientasi pada pengembangan green manufacture, sekaligus menjawab kebutuhan kompetensi industri energi bersih yang terus berkembang.








